Penyakit ini dapat menyebabkan penderitanya mengalami kesulitan bernapas serta kelumpuhan.
Penyakit polio sempat menjadi wabah yang mematikan pada tahun 1940an dan 1950an. Penyakit ini dapat menyebabkan penderitanya mengalami kesulitan bernapas serta kelumpuhan.
Sebelum ditemukannya vaksin pada tahun 1954, penderita penyakit polio pada waktu itu harus menggunakan ‘paru-paru besi’ untuk dapat bertahan hidup. Istilah paru-paru besi merujuk pada peti atau kaleng di tubuh pasien untuk membantu dia bernapas. Kaleng itu nantinya akan memompa udara ke dalam paru-paru dengan bantuan pompa mekanik.
Paul Alexander adalah satu-satunya orang yang selamat dari wabah Polio dan masih menggunakan ‘paru-paru besi’ hingga saat ini. Pada usia 6 tahun, ia benar-benar mengalami kelumpuhan akibat penyakit polio, paru-parunya berhenti bekerja, hingga akhirnya ia harus menggunakan alat bantu ‘paru-paru besi’.
Apa rasanya hidup di dalam kerangkeng besi selama lebih dari 64 tahun? Bagi kebanyakan orang, menghabiskan sebagian besar hidup dengan terbelenggu di dalam kotak besi adalah hal yang tidak mungkin. Tapi Paul Alexander menjadi pengecualiaan dalam hal ini.
Puluhan tahun hidup dalam paru-paru besi dalam kelumpuhan, ia hanya mampu menggerakkan kepala, leher dan mulutnya. alaupun tak bisa berbuat banyak, ia adalah seorang pengacara yang sukses.
Terkadang, Alexander juga kesal hidup dalam paru-paru besi. Namun, ia berterima kasih kepada alat tersebut karena telah membuatnya hidup sampai sekarang.
Ketergantungan Paul pada paru-paru besi bukan tanpa masalah, seperti yang terjadi pada tahun 2015 dimana mesin itu mengalami masalah mekanik. Masalahnya, perangkat ini sudah tidak diproduksi lagi sejak tahun 1960an. Akhirnya, Paul sampai membuat video minta tolong dan mengunggahnya lewat internet agar bisa menemukan seseorang yang bisa memperbaiki mesinnya.
Untungnya, permohonan Paul dijawab oleh seorang mekanik bernama Brady Richards. Dengan hasil perbaikan yang dilakukan Brady, mesin kesayangan Paul kini kembali dalam kondisi yang baik.